Search

Memuat...

Kategori Info

Bangsa Bugis

Visitors

Baris Video

Loading...

Arsip

Lego-Lego

SELAMAT DATANG DI JENDELA BUGIS

Tanah Bugis kampung halamanku. Indah permai pujaan hatiku. Negeri luhur pujaan Leluhur. Kan kujaga sepanjang hidupku
Info Terkini

Daftar Isi

Cara membuat Agar Koneksi Internet Lebih Cepat

Yang namanya browsing Internet dengan kecepatan yang tinggi sangatlah sulit, apalagi jika browsingnya di warnet atau memakai modem... hmmm.... Pasti kadang menyebalkan. Koneksi cepat, merupakan barang langka di Indonesia. Dan kalau mau cepat, paling harus lewat Wifi.. dan itu pun, kalau Anda beruntung mendapat bandwith yang besar. Berbagai cara dilakukan untuk mempercepat koneksi internet baik menggunakan software agar koneksi internet menjadi lebih cepat maupun menggunakan settingan tertentu yang diklaim bisa mempercepat koneksi internet, dalam hal ini merubah DNS Server, Berikut ini adalah tips yang dapat digunakan untuk mempercepat koneksi internet dan Anda boleh buktikan : -Menggubah setting bandwith pada windows Asal tahu aja, bahwa OS windows sudah membatasi bandwidth untuk koneksi internet sebanyak 20% dari total bandwidth yang seharusnya bisa maksimal, jika netter ingin menambah bandwidth internet supaya koneksinya terasa lebih cepat dan kencang, dapat dilakukan dengan cara mengurangi ataupun mengosongkan batasan bandwidth tersebut.
>>Berikut langkah-langkahnya :
1. Klik Start
2. Klik Run
3. Ketik gpedit.msc lalu OK
4. Selanjutnya klik Administrative Templates pada bagian computer configuration
5. Lalu klik Network
6. Langkah berikutnya klik QoS Packet scheduler
7. Klik Limit Reservable Bandwidth
8. Pada bagian setting pilih enable
9. Berikutnya ubah Bandwidth Limit (%) menjadi 0
10. Klik Apply dan Ok
11. Terakhir close dan restart komputer atau Laptop Anda..
Terima Kasih

Konsep Pancanorma (Pangngadereng)

Pencerminan kepribadian suatu bangsa, merupakan penjelmaan jiwa bangsa yang bersangkutan yang sering disebut sebagai adat.
Setiap bangsa di dunia ini tentu mempunyai adat kebiasaan sendiri-sendiri. Setiap bangsa memiliki adat kebiasaan yang berbeda antara bangsa yang satu dengan lainnya. Oleh karena itu, adat merupakan salah satu unsur penting yang memberikan identitas kepada suatu bangsa.
Seperti halnya Negara Republik Indonesia ini, adat yang dimiliki oleh sejumlah suku bangsa adalah berbeda-beda, namun dasar dan sifatnya adalah satu, yakni sifat keindonesiaannya. Sehingga adat bangsa Indonesia sering dikatakan merupakan “Bhinneka” yakni, meskipun berbeda-beda adat suku bangsanya dan “Tunggal Ika” yakni, tetap satu jua adalah dasar dan sifat keindonesiaannya.
Adat istiadat yang berhubungan dengan tradisi rakyat inilah yang merupakan sumber yang mengagumkan bagi hukum adat bangsa Indonesia yang merupakan cikal bakal ideologi atau norma bangsa yang dikenal dengan nama “Pancasila” yang terdiri dari 5 (lima) butir yaitu :
1.Ketuhanan Yang Maha Esa
2.Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3.Persatuan Indonesia
4.Kerkyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5.Kedilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Demikian pula suku bangsa Bugis yang mendiami pulau Sulawesi bagian Selatan juga mempunyai norma yang disebut “PANCANORMA” yakni terdapat 5 (lima) butir norma yang menjadi salah satu unsur pembeda dari sejumlah suku bangsa yang ada di Negara Republik Indonesia tercinta.

Konsep Pancanorma (Pangngadereng) ini lahir sejak abad ke-16 yaitu pada masa pemerintahan Raja Bone ke-6 (1543-1568). Pada masa itu terdapat seorang cendekiawan bugis yang bernama Lamellong. Karena atas kemampuan berpikir yang dimilikinya sehingga Raja memberi gelar “Kajao” yaitu orang cerdik/cendekia. Kajaolalliddong” yaitu cendekiawan atau orang cerdik pandai dari sebuah kampung yang bernama Lalliddong di wilayah kerajaan Bone. Sang Kajaolah yang melahirkan “Konsep Pangngadereng” yang hingga kini masih dipegang teguh oleh suku bangsa Bugis. Dengan pokok-pokok pikiran tentang hukum dan ketatanegaraan. Pokok-pokok pikiran beliau menjadi acuan bagi Raja dalam melaksanakan aktivitas pemerintahan. Dalam lintasan perjalanan Kerajaan Bone dilukiskan, betapa besar jasa Lamellong dalam mempersatukan tiga Kerajaaan Bugis, yakni Bone, Soppeng, dan Wajo, dalam sebuah ikrar sumpah setia untuk saling membantu dalam hal pertahanan dan pembangunan kerajaan. Ikrar ini dikenal dengan nama “Lamumpatue” ri Timurung tahun 1582 pada masa pemerintahan La tenri Rawe BongkangngE raja Bone ke-7 (1568-1584).

Dalam ikrar itu ketiga raja yakni, La Tenri Rawe BongkangngE (Bone), La Mappaleppe PatoloE (Soppeng), dan La Mungkace To Uddamang (Wajo) menandai ikrar itu dengan menenggelamkan tiga buah batu.
Pokok-pokok pikiran Lamellong yang dianjurkan kepada raja Bone ada empat hal, yakni :

1.Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;
2.Tidak memejamkan mata siang dan malam;
3. Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan
4. Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan.
Implementasi pokok-pokok pikiran sebagai unsur perekat dalam menjalankan aktivitas pemerintahan di atas adalah :
a. Siattinglima, yakni bergandengan tangan
b. Sitonraola, yakni kesepakatan melalui musyawarah
c. Tessipano, yakni tidak saling menjatuhkan
d. Tessibelleang, yakni tidak saling menghianati
Selanjutnya, dikalangan seorang raja Bugis dalam menjalankan roda pemerintahan harus memiliki 11 (sebelas) kriteria, antara lain raja harus bersifat :
1.LINO (BUMI) : Mempunyai watak BUMI, yaitu seorang pemimpin hendaknya mampu melihat jauh ke depan, berwatak murah hati, suka beramal, dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya
2.LANGI (LANGIT) : Mempunyai watak LANGIT, yaitu langit mempunyai keluasan yang tak terbatas hingga mampu menampung apa saja yg datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan pengendalikan diri yang kuat, sehingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam
3.WETTUING (BINTANG) : Mempunyai watak BINTANG, yaitu bintang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit sehingga dapat menjadi pedoman arah (Kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan rakyat kebanyakan tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.
4.MATAESSO (MATAHARI) :Mempunyai watak MATAHARI, yaitu matahari adalah sumber dari segala kehidupan, yang membuat semua mahluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya utk membangun negara dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya dan memamfaatkan cipta, rasa, dan karsanya.
5.KETENG (BULAN) : Mempunyai watak BULAN, yaitu keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan malam dan menumbuhkan harapan sejuk yang indah mempesona. Seorang pemimpin hendaknya sanggup dan dapat memberikan dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyatnya, ketika rakyat sedang menderita kesulitan. Ketika rakyatnya sedang susah maka pemimpin harus berada di depan dan ketika rakyatnya senang pemimpin berada di belakang.
6.ANGING (ANGIN) : Mempunyai watak ANGIN, yaitu angin selalu berada disegala tempat tanpa membedakan daratan tinggi dan daratan rendah ataupun ngarai. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyatnya, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, hingga secara langsung mengetahui keadaan & keinginan rakyatnya.
7.WARA API (API) : Mempunyai watak API, yaitu api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurleburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.
8.TANA (TANAH) : Mempunyai watak TANAH, yaitu tanah merupakan dasar berpijak dan rela dirinya ditumbuhi. Seorang pemimpin harus menjadikan dirinya penyubur kehidupan rakyatnya dan tidak tidur memikirkan kesejahteraan rakyatnya.
9.RAUKKAJU (TUMBUHAN) : Mempunyai watak TUMBUHAN, yaitu tumbuhan/tanaman memberikan hasil yang bermamfaat dan rela dirinya dipetik baik daun,dan buahnya maupun bunganya demi kepentingan mahluk lainnya.
10.TASI’ (LAUT LUAS) : Mempunyai watak SAMUDRA, yaitu laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yg rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Dengan demikian ia dapat berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.
11.SAO/BOLA (RUMAH) : Mempunyai watak RUMAH, yaitu rumah senantiasa menyiapkan dirinya dijadikan sebagai tempat berteduh baik malam maupun malam. Seorang pemimpin harus memayungi dan melindungi seluruh rakyatnya.
Implementasi kesebelas kriteria di atas, menurut ajaran Lamellong Kajao Lalliddong mengenai pelaksanaan pemerintahan dan kemasyarakatan yang disebut “Inanna Warangparangnge” yaitu sumber kekayaan, kemakmuran, dan keadilan antara lain :
1. Perhatian Raja terhadap rakyatnya harus lebih besar dari pada perhatian terhadap dirinya sendiri;
2. Raja harus memiliki kecerdasan yang mampu menerima serta melayani orang banyak;
3. Raja harus jujur dalam segala tindakan.
Tiga faktor utama yang ditekankan Kajao dalam pelaksanaan pemerintahan, merupakan ciri demokratisasi yang membatasi kekuasaan raja, sehingga raja tidak dapat bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan norma yang telah ditetapkan. Tentang pembatasan kekuasaan, dalam Lontara’ disebutkan, bahwa Arung Mangkau berkewajiban untuk menghormati hak-hak orang banyak. Perhatian raja harus sepenuhnya diarahkan kepada kepentingan rakyat sesuai amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Berdasarkan dari berbagai pokok-pokok pikiran Kajaolalliddong di atas maka kelima butir Pangngadereng (Pancanorma) yang dimaksud adalah :
1. Ade
2. Bicara
3. Rapang
4. Wari
5. Sara

1. ADE’

Ade merupakan komponen pangngaderen yang memuat aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat. Ade’ sebagai pranata sosial didalamnya terkandung beberapa unsur antara lain :
a. Ade’ pura Onro, yaitu norma yang bersifat permanen atau menetap dengan sukar untuk diubah.
b. Ade’ Abiasang, yaitu sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.
c. Ade’ Maraja, yaitu sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

2.BICARA

Bicara adalah aturan-aturan peradilan dalam arti luas. Bicara lebih bersifat refresif, menyelesaikan sengketa yang mengarah kepada keadilan dalam arti peradilan bicara senantiasa berpijak kepada objektivitas, tidak berat sebelah.

3.RAPANG

Rapang adalah aturan yang ditetapkan setelah membandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau membandingkan dengan keputusan adat yang berlaku di negeri tetangga.

4.WARI

Wari adalah suatu sistem yang mengatur tentang batas-batas kewenangan dalam masyarakat, membedakan antara satu dengan yang lainnya dengan ruang lingkup penataan sistem kemasyarakatan, hak, dan kewajiban setiap orang.

5.SARA

Sara adalah suatu sistem yang mengatur dimana seorang raja dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersandar kepada Dewatae (Tuhan yang Maha Esa)

Dengan demikian ajaran Kajao Lalliddong tentang hukum yang mengatur kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kominitas dalam wilayah kerajaan, dengan ditambahkannya komponen sara diatas menjadi semakin lengkap dan sempurna. Ajaran Kajao ini selanjutnya menjadi pegangan bagi kerajaa-kerajaan Bugis yang ada di Sulawesi Selatan.

Dapat dikatakan, bahwa lewat konsep “Pangngadereng” ini menumbuhkan suatu wahana kebudayaan yang tak ternilai bukan hanya bagi masyarakat Bugis di berbagai pelosok nusantara. Bahkan ajaran Kajao Lalliddong ini telah memberi warna tersendiri peta budaya masyarakat Bugis, sekaligus membedakannya dengan suku-suku lain yang mendiami nusantara ini.

Itulah kelima butir tatanan dalam konteks kesukuan bagi suku bangsa Bugis yang menjadi dasar dalam menjalankan roda pemerintahan Raja-Raja Bone sejak abad XVI pada masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’E (1543-1568) yang selanjutnya menjadi pegangan bagi kerajaa-kerajaan Bugis.

Berdasarkan Konsep Pancanorma di atas maka dikalangan suku bangsa Bugis lahirlah istilah “Paseng dan Pangaja”. Paseng (Petuah) adalah sesuatu pesan yang berlaku pada masa dulu, kini, dan akan datang. Sedang Pangaja (Nasihat) adalah suatu pesan yang lahir setelah seseorang melakukan perbuatan yang dianggap bertentangan dengan norma yang berlaku. Paseng atau petuah yang dimaksud adalah :

1) Lempu / Kejujuran : Pahit dan getir
2) Getteng / Prinsip
3) Sipakatau / Manusiawi
4) Mappesona ri Dewatae / Bersandar kepada Allah

Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945 telah menjadi ruh dalam kehidupan bangsa Indonesia juga menjadi perekat kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila sebagai falsafah NKRI merangkum seluruh kepribadian suku bangsa yang ada di Indonesia.

Pancanorma (Pangngadereng) lahir pada tahun 1543 sejak pemerintahan raja Bone VII Latenri Rawe’ BongkangngE merupakan simbol ruh yang merangkum kepribadian suku bangsa Bugis dimasa lalu. Akankah ruh-ruh luhur itu akan kembali menghias Bumi Pertiwi? Karena sekarang ini ruh-ruh itu berada di pojok-pojok yang sepi?.

(Oleh : Mursalim, S.Pd.,M.Si.)
Dir.Lembaga Seni Budaya Teluk Bone


Sekilas Tentang Penetapan Hari Jadi Bone

Hari Jadi Bone diperingati tanggal 6 April setiap tahunnya. Hal ini berdasarkan Perda Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan ini diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri oleh Pakar Sejarah dan Budayawan Bone. Tanggal dan Bulan penetapan Hari Jadi Bone diambil berdasarkan Pelantikan Raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka pada tanggal 6 April 1696. Masa Pemerintahnnya (1696-1714). Sedangkan penetapan tahunnya berdasarkan sejak Tahun 1330 masa pemerintahan Raja Bone ke-1 yaitu La Ubbi yang digelar Manurungnge Ri Matajang (1330-1358)

Dengan demikian, tahun 2011 Bone memperingati hari jadinya ke-681 yaitu , Tanggal 6 April 2011 yang terhitung sejak La Ubbi To Manurungnge Ri Matajang sebagai Raja Bone ke-1 (1330). Perlu dipahami, bahwa Peringatan Hari Jadi Bone walaupun hitungan tahunnya sejak 1330 namun proses pelaksanaannya baru dimulai tahun 1990

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam memperingati Hari Jadi Bone diantaranya sebagai berikut :


a. Mattompang Arajang

Merupakan kegiatan menyucikan benda-benda Pusaka Kerajaan Bone yang terdiri dari : Keris Lamakkawa, Pedang (Alameng), Latenri Duni, dansenjata perang lainnya serta Salempang Emas (Sembang Pulaweng). Penyucian ini dilaksanakan secara adat, dengan pelaksana para Empu Keris Pusaka yang disertai tata cara adat lainnya meliputi Sere Bissu yang diiringi musik “Gendrang Bali Sumange”, Ana” Beccing, dan Kancing.

Dimasa kerajaan masa lampau, kegiatan ini sebagai bahagian upacara ritual untuk menghadapi hal-hal tertentu seperti ketika akan menghadapi perang, menghadapi wabah penyakit yang melanda kerajaan, dan guna mendatangkan hujan ketika terjadi kemarau panjang.


b. Kirab Kerajaan

Kirab kerajaan Bone adalah serangkaian prosesi adat yang digelar pada saat diperingatinya Hari Jadi Bone setiap tahunnya. Dalam prosesi adat ini dipergelarkan sejumlah jenis dan susunan pasukan kerajaan Bone dimasa lampau, yang terdiri dari: Pasukan Petta PonggawaE (Panglima Perang), Pasukan Raja dan Permaisuri, Pasukan Bissu Kerajaan, Pasukan Laskar (Prajurit Kerajaan), Pasukan Ade Pitu (Tujuh Petinggi kerajaan, serta Pasukan Tokoh-tokoh Masyarakat.


c. Sendratari ManurungngE

Merupakan Sendratari yang menyajikan kisah sejarah awala terjadinya Pengangkatan dan Pelantikan Raja (Mangkau), yang sekaligus merupakan babakan awal terciptanya tata pemerintahan kerajaan I dimasa abad XIII pada tahun 1330 di Tana Bone. Sendratari ini mengisahkan bahwa Tanah Bone pada abad XIII, kehidupan masyarakat serba tidak menentu. Di antara kelompok masyarakat adat yang ketika itu masing-masing dipimpin oleh seorang ketua adat atau disebut Matoa, saling menjatuhkan dan memerang satu sama lain. Sehingga suasana kehidupan menjadi carut – marut, di mana-mana para warga saling bermusuhan. Tidak Ada lagi tatanan yang dapat mempersatukan rakyat Bone, kemiskinan terjadi, keterpurukan terjadi pada semua sendi kehidupan. Peristiwa demi peristiwa terjadi tanpa terkendali, sehingga suatu saat terjadi satu keajaiban di mana bumii diliputi hujan lebat dan petir menyambar-nyambar dengan sangat dahsyat dan menyilaikan mata. Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian putih yang tidak diketahui asalnya (dalam kisah lo ntara ia disebut dsebagai PUA CILAO), hujan dan petirpun reda. Mengalami peristiwa ajaib ini para warga yang berperangpun menghentikan aktivitasnya melihat kedatangan seorang yang dianggap turun dari langit. Para wargapun kemudian memberikan salam hormat.
Namun sang pendatang ini menolak untuk diberi penghormatan dan bahkan ia menyampaikan pesan bahwa manusia yang pantas bagi mereka untuk diberi penghormatan buakanlah ia, melainkan ada seseorang yang lain yang kelak akan menjadi pemimpin mereka di Tanah Bone. Dialah yang akan menjadi raja (Mangkau) I di Tanah Bone. Jelang beberapa lama muncullah seseorang dengan berpakaian lengkap yang didampingi oleh para pengapitnya berikut sejumlah Bissu sebagai pasukan pengawal. Dialah Sang ManurungngE Ri Matajang bergelar Mattasi LompoE. Dan setelah duduk bersama para Tokoh Pemimpin Rakyat (Matoa), maka para Matoa bersepakat mengangkat ManurungngE Ri Matajang sebagai Mangkau (raja) I di tanah Bone. Sehingga sejak itu pada tahun 1330 berdirilah Kerajaan Bone.


d. Tari Alusu

Tari yang digelar untuk penjemputan tamu kehormatan dari kerajaan lain. Diperagakan pada awalnya oleh para Bissu kerajaanpada abad XVI masa pemerintahan Raja Bone X We Tenri Tuppu MatinroE Ri Sidenreng, tari ini biasa juga disebut Sere Bissu. Kemudian pada masaberikutnya dipergakan dalam bentuk tari yang disebut Tari Alusu yang diperagakan oleh paradara-dara di lingkungkangan bangsawan.


e. Tari Pajaga Andi

Lahir pada masa Raja Bone Webenri Gau Fatima Banri, ia juga selaku pencipta pakaian “Waju Ponco” yang dikenakan bagi para andi-andi seperti sekarang ini. Tari ini diperagakan pada saat “Majjaga” di saoraja untuk menciptakan suasana hiburan bagi raja ketika sedangberistirahat.


f. Tari Maraneng Songlkok Recca" Songkok To Bone

Merupakan tari kreasi daerah Bone yang menggambarkan cara menganyam Songkok To Bone yang melambangkan suatu kegiatan mulai dari pengambilan bahan (dari ure’ Ca/Serat pohon lontar) sampai menjadibentuk songkok. Tarian ini diperagakan oleh para anak dara dan Kallolona Tanah Bone kostum Adat Bugis Bone, dihadapan para tamu Kehormatan Daerah. dengan Instrumentarian ini adalah gendang, gong, kecapi, suling, dan peralatan lainnya.


g. Gendrang Sanro
Dibawakan oleh para sanro (dukun) untuk meminta restu dewa guna menolak bencana yang diperkirakan akan menimpa kerajaan. Selain itu juga dipakai dalam upacara adat seperti: Acara Menre’ Bola (menempati rumah baru), Mappakkulawi (Maruwwaelawi) yaitu selamatan anak yang baru lahir. Acara ini sudah ada sejak zaman kerajaan, dilakukan oleh para Sanro yang lahir setelah berakhirnya peranan Bissu di lingkungan kerajaan. Para Sanro ini bisa darilaki-laki maupun perempuan. Alat yang digunakan : gendang, anak beccing, kancing, mangkok porselin, dan sinto (dari bahan daun lontar).

h. Genrang Bajo

Diperagakan oleh oleh komunitas suku Bajo, yang memberikan gambaran situasi kehidupan suku Bajo di pesisir pantai. Genrang Bajo sering disebut juga sebagai Genrang Pabbiring (pesisir)

i. Gendrang Balisumange

Diperagakan oleh rumpun bangsawan untuk mengiringi upacara adat perkawinan, upacara malam perkawinan adat bugis Bone lingkungan Saoraja. Genrang BalisumangE biasa juga digelar pada acara perkawinan antar rumpun bangsawan, mulai dari mappettu ada, tudang penni, sampai hari perkawinan (esso botting); selalu diiringi dengan anak baccing dan kancing.


j. Gendrang Pangampi

Dibunyikan saat warga menjaga padi, sehingga hama dan burung, pengganggu pemakanpadi menjauh dari tempat/sawah. Alat yang dipakai : alat bambu dan kayu pilihan, biasanyadiiringi dengan " katiting " (dari batang padi).


BEDA HARI JADI BONE DAN HARI JADI KABUPATEN BONE

Tidak seperti hari Jadi Bone yang selalu diperingati tiap tahunnya. Seingat Penulis Hari Jadi Kabupaten Bone belum pernah dirayakan. Karena perlu dipahami, bahwa BEDA HARI JADI BONE DENGAN HARI JADI KABUPATEN BONE.

Penjelasannya adalah Kabupaten Bone terbentuk sejak Tahun 1959 bersarkan Undang-Undang Nomor 29 Tanggal 4 Juli Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi. Sehingga apabila Hari Jadi Kabupaten Bone dirayakan maka perhitungannya dimulai Tanggal 4 Juli 1959.
Dengan demikian, di Tahun 2011 Peringatan ke –681 HARI JADI BONE dan Peringatan ke-52 HARI JADI KABUPATEN BONE ?

Oleh : Mursalim, S.Pd., M.Si.


Malaweng dan Hukum Adat Bangsa Bugis

Setiap suku bangsa memiliki adat tersendiri yang merupakan pencerminan kepribadian dan penjelmaan dari pada jiwa bangsa itu sendiri. Demikian pula bangsa Bugis memiliki tatanan hukum adat dalam menjalani kehidupannya.

Adat merupakan pencerminan kepribadian suatu bangsa yang berlangsung turun temurun dari abad ke abad. Setiap bangsa di dunia tentu memiliki adat kebiasaan sendiri-sendiri, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Sehingga ketidaksamaan inilah yang memberikan identitas antara bangsa yang satu dengan yang lainnya.

Adat diibaratkan sebuah fundasi yang kukuh, sehingga kehidupan modern pun ternyata tidak mampu melengserkan adat-kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Karena adat itu dapat mengadaptasikan diri dengan keadaan dalam proses kemajuan zaman sehingga adat itu tetap kekal dan tegar menghadapi tantangan zaman.

Hukum adat merupakan sesuatu tatanan hidup masyarakat yang kemudian menjadi hukum yang tidak tertulis. walaupun demikian tetap dipatuhi berdasarkan atas keyakinan bahwa peraturan-peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum.

Dahulu, dikalangan bangsa Bugis Bone dikenal hukum adat dengan istilah “Malaweng”. Dari berbagai sumber yang diperoleh penulis bahwa, Hukum Adat Malaweng itu terdapat tiga tingkatan, yaitu :

1. Malaweng tingkat pertama (Malaweng Pakkita), yakni sesorang yang melakukan pelanggaran melalui pandangan mata. Misalnya, menatap sinis kepada orang lain, menatap tajam laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dan lain sejenisnya.

2. Malaweng tingkat kedua (Malaweng Ada-ada), yakni seseorang yang melakukan pelanggaran melalui kata-kata yang diucapkan. Misalnya, berkata yang tidak senonoh kepada orang, membicarakan aib orang lain, berkata sombong dan angkuh, berkata kasar kepada lawan bicaranya, dan lain sejenisnya.

3. Malaweng tingkat ketiga ( Malaweng Kedo-kedo), yakni seseorang yang melakukan pelanggaran karena perbuatan tingkah laku. Misalnya, laki-laki melakukan hubungan intim dengan perempuan adik atau kakak kandungnya sendiri, membawa lari anak gadis (silariang), melakukan hubungan intim dengan ibu/ayah kandungnya sendiri, menghilangkan nyawa orang lain, mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan yang punya, dan lain sejenisnya.

Dahulu, khusus dalam hal kawin mawin dengan saudara kandungnya sendiri atau ayah/ibu kandungnya sendiri tergolong pelanggarang pelanggaran adat yang paling berat karena apabila hal ini terjadi maka keduanya baik laki-laki maupun perempuan mendapat hukuman dengan cara “Riladung” yakni keduanya dimasukkan ke dalam sebuah karung yang diikat dengan tali kemudian ditenggelamkan ke dasar laut dengan menggunakan alat pemberat batu. Dahulu, salah satu tempat eksekusi yang ada di Bone adalah Kawasan Tanjung Pallette yang berjarak 12 km dari kota Watampone sekarang ini. Keduanya dinaikkan kesebuah perahu kecil dan dibawa ke arah timur sejauh 3 km dari pantai Tanjung Pallette kemudian ditenggelamkan ke laut.

(Teluk Bone)

Facebook di Hack dan Emailnya Diganti...Ini Solusinya

Sangat menyebalkan memang bila tiba-tiba kita tidak bisa login ke Facebook, padahal teman sudah segudang, dan tentunya kalau harus membuat akun Facebook baru akan sangat malas karena harus meng-add satu persatu teman-teman kita. Dan lebih menyebalkan lagi, email Facebook yang biasa kita pakai diganti, alhasil kita tidak bisa mereset password kita.

Bila anda mengalami masalah Facebook dihack dan lalu emailnya diganti, maka solusi sederhana ini mungkin bisa membantu.

Pertama masuk ke halaman : http://www.facebook.com/help/?topic=login#!/help/?page=1023

Pertanyaan di Halaman Help Facebook

Pilihlah opsi No.1 jika anda masih bisa mengakses email anda, misal anda masih bisa mengecek email di Yahoo Mail atau Gmail. Namun jika email andapun telah dihack juga maka pilihlah opsi No. 2. Sebagai contoh diibaratkan anda masih bisa mengakses email anda (di Yahoo Mail, misal), maka dipilihlah opsi No. 1

Pada halaman kedua, akan muncul dua pertanyaan lagi, pilihlah opsi kedua bila email facebook anda telah dirubah.

Facebook Help Halaman Kedua

Selanjutnya isilah data-data yang diperlukan, sesuai dengan Data Akun Facebook anda, mulai dari Nama Lengkap Anda di Facebook, Tempat tanggal lahir sampai alamat URL dari Akun Facebook anda. Isilah semuanya dengan benar.

Pertanyaan Facebook

Setelah selesai klik Submit. Dan anda tinggal menunggu respon dari Pihak Facebook ke email anda, jadi rajin-rajinlah mengecek email.

Selamat mencoba.


Cara Menghilangkan Iklan di Facebook

Bagi anda yang sering ber-Facebook ria tentu sudah tidak asing lagi, saat anda melihat-lihat profile sendiri maupun profile orang lain, pasti anda akan disajikan jajaran iklan yang tepat berada di sisi sebelah kanan. Yang lebih mengesalkan di Facebook tidak ada setting untuk mendisable iklan-iklan tersebut, hingga andapun terpaksa harus terus menerus melihat iklan-iklan tersebut secara berulang-ulang. Bahkan yang lebih parah lagi, bila koneksi internet anda lemot kehadiran iklan-iklan ini menambah lemot proses loading Facebook anda.

Iklan-iklan yang ada di Facebook merupakan sumber pemasukan utama bagi Facebook sendiri, dan tentunya Facebook tidak akan suka bila kemudian anda menghilangkan iklan-iklan tersebut. Tapi, jika anda merasa bahwa kehadiran dan keberadaan iklan-iklan tersebut sudah sangat mengganggu kenyamanan anda dalam ber-facebook ria, tidak ada jalan selain meremove atau menghilangkan iklan-iklan tersebut meskipun itu hanya dari komputer anda saja.

Ada banyak Facebook Code yang bisa anda pakai untuk menghilangkan iklan-iklan Facebook, satu yang terbaik adalah Facebook Code “Remove All Facebook Ads” yang dibuat oleh Tidalwav. Cukup anda instal Remove All Facebook Ads, di komputer anda maka andapun akan terbebas dari iklan-iklan yang ada di Facebook dan kini andapun bisa lebih cepat mengakses Facebook karena ketidakhadiran iklan-iklan tersebut.

Untuk memulai menginstal code Remove All Facebook Ads, silahkan arahkan browser anda ke Instal Remove All Facebook Ads, setelah itu anda klik tombol INSTAL seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Hapus Iklan di Facebook

Begitu anda mengklik tombol INSTAL akan ada Pop up Windows GreaseMonkey Instal;ation yang mengkonfirmasi tentang proses instalasi script, anda tinggal pilih saja Instal.

Greasemonkey Installation Script

Selamat mencoba

Instal Font Bugis




Silakan Dowload disini


Cara instal :
1. Masuk ke Control Panel Computer Anda. Kemudian Klik Font. Setelah itu Klik File kemudian Instal New Font
2. Kemudian Klik file berekstensi ttf yang telah didownload tadi. Kemudian Klik Enter.
3. Sekarang Font Bugis telah terinstal di PC Anda.
4. Ingin Coba ? Silakan buka Microsoft Officeword Anda

Semoga bermamfaat

Tips Merubah Warna Tampilan Facebook

Hack Facebook : Melihat Photo Lebih Besar dan Mencari Seseorang Tanpa Login

Tips berikut akan menunjukkan kepada anda, bagaimana mencari seseorang di Facebook tanpa harus Login terlebih dahulu plus melihat photo dengan ukuran yang sedikit lebih besar. Seperti kita maklumi saat kita membuka Facebook secara default tidak ada kolom untuk proses pencarian, baru setelah Login kolom pencarian tersebut tersedia.Tapi dengan trik berikut anda bisa melakukan proses pencarian tanpa harus LOGIN.
  • Masukan pada Address Bar Browser alamat berikut : http://www.facebook.com/srch.php maka anda bisa mulai proses pencarian, tanpa perlu LOGIN terlebih.

  • Saat disodorkan dengan hasil pencarian, secara default anda hanya diberikan photo hasil pencarian dengan ukuran yang kecil alias mungil, untuk melihat photo yang lebih besar lakukan langkah berikut.

  • Klik kanan pada photo, dan klik Copy Image Location.

Copy Image Location
  • Sebagai contoh hasil copy akan tampak seperti ini :

  • http://profile.ak.facebook.com/v224/138/15/s123456789_123.jpg.

  • Seperti terlihat ada huruf s di depan id-user, sekarang paste alamat hasil copy ke Address bar, dan untuk melihat ukuran photo yang lebih besar, anda tinggal ganti huruf s (yang berarti small) dengan huruf n alias normal.

  • Hasilnya akan seperti ini : http://profile.ak.facebook.com/v224/138/15/n123456789_123.jpg Kini andapun bisa melihat ukuran photo yang lebih besar.


Selamat mencoba

Saoraja / Bolasoba

Penelusuran Cucu Lamaddaremmeng

Asli Bangsa Bugis

TELUK BONE

Cara Lain Menulis HTML pada Postingan

Ada beberapa cara dalam penulisan kode HTML pada postingan. Cara yang satu ini menurut saya adalah cara termudah dalam menulis kode HTML pada postingan. Langkah pertama adalah dengan memasang tombol HTML Encode pada halaman posting di blogger. Dengan adanya tombol ini anda tidak perlu buka web lain untuk Encode kode HTML. Jadi bisa lebih mudah bukan ??. Akan tetapi untuk mengaktifkan tombol ini hanya bisa memakai browser Firefox, karena harus memasang add-ons plugin.
Baiklah kita lanjutkan langkah pemasangan tombol Encode HTML
Langkah pertama install dulu
GreaseMonkey. Setelah install restart firefox anda.
Langkah kedua adalah install javascript berikut, klik disini. Setelah itu tekan tombol install. Keluar dari firefox dan buka kembali browser firefox anda, dan masuk ke dasbor blogger anda dan lihat pada halaman poting secara otomatis akan ada tombol HTML Encode. Seperti gambar dibawah ini..




Langkah ketiga adalah blok kode HTML yang akan di Encode, setelah itu klik tombol HTML ENCODE, kode HTML akan otomatis berubah. Gimana...gampang toh??. Ataukan ada yang lebih mudah, silahkan menambahkan. Semoga bermamamfaat.

Cara Menulis Kode HTML Pada Postingan

Adapun langkah2nya yaitu:

  1. Silahkan kunjungi situs tersebut disini
  2. Pada kotak isian silahkan ketik kode HTML yang akan di Convert
  3. Klik tombol Convert Ad Code
  4. Nah anda sudah mendapat kode yang telah mengalami perubahan sedikit.
  5. Masukan kode hasilconvert tsb di posisi HTML postingan Anda
  6. Klik Publish
  7. Selesai... Lihat hasilnya

Lamellong Sang Diplomat dari Bugis

Lamellong dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam menciptakan pola dasar pemerintahan Kerajaan Bone di masa lampau. Tepatnya pada abad ke-16 masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’E (1543-1568) dan raja Bone ke-7 Tenri Rawe BongkangngE (1568-1584). Lamellong muncul ibarat bintang gemilang di kerajaan. Dengan pokok-pokok pikiran tentang hukum dan ketatanegaraan. Pokok-pokok pikiran beliau menjadi acuan bagi Raja dalam melaksanakan aktivitas pemerintahan.

Tentang Lamellong di tanah Bugis, dilacak melalui sumber-sumber lisan berupa cerita rakyat dan catatan sejarah, baik dari lontara maupun tulisan-tulisan lainnya. Serpihan tulisan yang ada lebih banyak mencatat tentang buah pikirannya yang menyangkut “Konsep Hukum dan Ketatanegaraan” dalam bahasa Bugis Bone disebut “Pangngadereng”.

Dalam lintasan perjalanan Kerajaan Bone dilukiskan, betapa besar jasa Lamellong dalam mempersatukan tiga Kerajaaan Bugis, yakni Bone, Soppeng, dan Wajo, dalam sebuah ikrar sumpah setia untuk saling membantu dalam hal pertahanan dan pembangunan kerajaan. Ikrar ini dikenal dengan nama “Lamumpatua” ri Timurung tahun 1582 pada masa pemerintahan La tenri Rawe BongkangngE.

Dalam ikrar itu ketiga raja yakni, La Tenri Rawe BongkangngE (Bone), La Mappaleppe PatoloE (Soppeng), dan La Mungkace To Uddamang (Wajo) menandai ikrar itu dengan menenggelamkan tiga buah batu.

Pokok-pokok pikiran Lamellong yang dianjurkan kepada raja Bone ada empat hal, yakni :

1.Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;

2.Tidak memejamkan mata siang dan malam;

3.Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan

4.Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan.

Gelar Kajao

Karena pola pikiran dan kemampuannya yang luar biasa itu, maka Lamellong diberi gelar penghargaan dari kerajaan yang disebut “Kajao Lalliddong”. Kajao berarti orang cerdik pandai dari kampung Lalliddong. Ia dilahirkan pada masa pemerintahan Raja Bone ke-4 We Benrigau (1496-1516).

Sejak kecil dalam diri Lamellong telah nampak adanya bakat-bakat istimewa untuk menjadi seorang ahli pikir yang cemerlang.. Bakat-bakat istimewa itu kemudian nampak menjelang usia dewasanya yang dilatarbelakangi iklim yang bergolak, di mana pada zaman itu Gowa telah berkembang sebagai kerajaan yang kuat di jazirah Sulawesi Selatan. Kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka di Sulawesi Selatan satu demi satu ditaklukkannya baik secara damai maupun kekerasan. Hanya Kerajaan Bonelah yang masih dapat mempertahankan diri dari ekspansi Gowa. Akan tetapi lambat laun Kerajaan Bone dalam keadaan terkepung menyebabkan kerajaan dan rakyat Bone dalam situasi darurat, namun akhirnya dua kerajaan yang berseteru berdamai.

Menurut catatan Lontara, bahwa pada masa pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenri Rawe BongkangngE. Lamellong atau Kajao lalliddong diangkat menjadi penasihat dan Duta Keliling Kerajaan Bone. Ia dikenal sebagi seorang ahli pikir besar, negarawan, dan seorang diplomat ulung bagi negara dan bangsanya.

Dalam perjanjian Caleppa (Ulu Kanaya ri Caleppa) antara Kerajaan Bone dan Gowa tahun 1565. Lamellong atau Kajao Lalliddong memainkan peranan penting. Juga perjanjian persekutuan antara kerajaan Bone,Soppeng, dan Wajo yang disebut Perjajnjian LamumpatuE ri Timurung tahun 1582.

Ajaran-ajaran Kajao termuat dalam berbagai Lontara diantaranya LATOA seperti beberapa alinea yang dikutip berikut ini :

Dalam dialog Kajao dengan raja Bone (berkata Raja Bone : Apa tandanya apabila negara itu mulai menanjak kejayaannya? Jawab Kajao : Duwa tanranna namaraja tanae, yanaritu seuwani namalempu namacca Arung MangkauE, madduwanna tessisala-salae. Artinya : dua tandanya negara menjadi jaya, pertama raja yang memerintah memiliki kejujuran serta kecerdasan, kedua di dalam negeri tidak terjadi perselisihan.

Selain itu, ajaran Lamellong Kajao Lalliddong mengenai pelaksanaan pemerintahan dan kemasyarakatan yang disebut “Inanna WarangparangngE” yaitu sumber kekayaan, kemakmuran, dan keadilan antara lain :

1. Perhatian Raja terhadap rakyatnya harus lebih besar dari pada perhatian terhadap dirinya sendiri;

2. Raja harus memiliki kecerdasan yang mampu menerima serta melayani orang banyak;

3. Raja harus jujur dalam segala tindakan.

Tiga faktor utama yang ditekankan Kajao dalam pelaksanaan pemerintahan, merupakan ciri demokratisasi yang membatasi kekuasaan Raja, sehingga Raja tidak dapat bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan norma yang telah ditetapkan. Tentang Pembatasan kekuasaan, dalam lontara disebutkan, bahwa Arung Mangkau berkewajiban untuk menghormati hak-hak orang banyak. Perhatian Raja harus sepenuhnya diarahkan kepada kepentingan rakyat sesuai amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Lebih jauh Lamellong Sang Kajao menekankan bahwa raja dalam melaksanakan roda pemerintahannya harus berpedoman kepada “Pangngadereng” (Sistem Norma). Adapun sistem norma menurut konsep Lamellong Kajao Lalliddong sebagai berikut :

1. ADE’

Ade merupakan komponen pangngaderen yang memuat aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat. Ade’ sebagai pranata sosial didalamnya terkandung beberapa unsur antara lain :

a. Ade pura Onro, yaitu norma yang bersifat permanenatau menetap dengan sukar untuk diubah.

b. Ade Abiasang, yaitu sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.

c. Ade Maraja, yaitu sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

2. BICARA

Bicara adalah aturan-aturan peradilan dalam arti luas. Bicara lebih bersifat refresif, menyelesaikan sengketa yang mengarah kepada keadilan dalam arti peradilan bicara senantiasa berpijak kepada objektivitas, tidak berat sebelah.

3.RAPANG

Rapang adalah aturan yang ditetapkan setelah membandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau membandingkan dengan keputusan adat yang berlaku di negeri tetangga.

4.WARI

Wari adalah suatu sistem yang mengatur tentang batas-batas kewenangan dalam masyarakat, membedakan antara satu dengan yang lainnya dengan ruang lingkup penataan sistem kemasyarakatan, hak, dan kewajiban setiap orang.

Setelah agama Islam resmi menjadi agama Kerajaan Bone pada abad ke-17, maka keempat komponenpangngadereng (Ade, Bicara, rapang, dan wari) ditambah lagi satu komponen, yakni Sara (Syariah). Dengan demikian ajaran Kajao Lalliddong tentang hukum yang mengatur kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kominitas dalam wilayah kerajaan, dengan ditambahkannya komponen sara diatas menjadi semakin lengkap dan sempurna. Ajaran Kajao ini selanjutnya menjadi pegangan bagi kerajaa-kerajaan Bugis yang ada di Sulawesi Selatan.

Dapat dikatakan, bahwa lewat konsep “Pangngadereng” ini menumbuhkan suatu wahana kebudayaan yang tak ternilai bukan hanya bagi masyarakat Bugis di berbagai pelosok nusantara. Bahkan ajaran Kajao Lalliddong ini telah memberi warna tersendiri peta budaya masyarakat Bugis, sekaligus membedakannya dengan suku-suku lain yang mendiami nusantara ini.

Semasa hidupnya Kajao Lalliddong senantiasa berpesan kepada siapa saja, agar bertingkahlaku sebagai manusia yang memiliki sifat dan hati yang baik. Karena menurutnya, dari sifat dan hati yang baik, akan melahirkan kejujuran, kecerdasan, dan keberanian. Diingatkan pula, bahwa di samping kejujuran, kecerdasan, dan keberanian maka untuk mencapai kesempurnaan dalam sifat manusia harus senantiasa bersandar kepada kekuasaan “Dewata SeuwwaE” (Tuhan Yang Maha Esa). Dan dengan ajarannya ini membuat namanya semakin populer, bukan hanya dikenal sebagi cendekiawan, negarawan, dan diplomat ulung, tetapi juga dikenal sebagi pujangga dan budayawan.

Nama dan jasanya sampai kini terpatri dalam hati sanubari masyarakat Bone khususnya, bahkan masyarakat bugis pada umumnya. Dia adalah peletak dasar konsep-konsep hukum (Pangngadereng) dan ketatanegaraan yang sampai kini msaih melekat pada sikap dan tingkah laku orang Bugis.

Saat-saat Terakhir dalam Hidupnya

Mengingat usia Lamellong Kajao Lalliddong pada akhir pemerintahan Latenri Rawe Bongkangnge (1584) sudah mencapai 71 tahun, maka banyak yang berpendapat, bahwa pada masa pemerintahan raja Bone ke-8 peranan Kajao Lalliddong secara pisik sebagai penasihat kerajaan tidak lagi terlalu nampak, kecuali buah-buah pikirannya tetap menjadi acuan bagi raja dalam melaksanakan aktivitasnya. Pada masa inilah Lamellong yang digelar Kajao Lalliddong meninggal dunia.

Sumber-sumber lisan misalnya cerita rakyat di Kabupaten Bone menyebutkan bahwa di saat usia uzur, beliau memilih meninggalkan istana raja dan kembali ke kampung kelahirannya di Lalliddong yang pada saat itu berada dalam wilayah wanua Cina. Tetapi bukan berarti buah-buah pikirannya tidak lagi dibutuhkan. Setiap saat raja dan aparatnya masih tetap meminta pendapat bila ada hal-hal yang sulit untuk dipecahkan.

Tentang pemberian gelar “Kajao” yang menurut bahasa Bugis, hanya diperuntukkan bagi nenek perempuan, hal ini menimbulkan analisis, bahwa selama hidupnya Kajao Lalliddong berperan sebagai “Rohaniawan” (Bissu) di mana pada saat itu Kerajaan Bone masih dipengaruhi oleh agama Hindu. Dengan peranannya sebagai Bissu, maka tingkah lakunya selalu namapak sebagai layaknya seorang perempuan.

Di desa Kajao Lalliddong Kecamatan Barebbo kabupaten Bone ada dua versi tentang peristiwa meninggalnya ahli pikir kerajaan Bone itu. Versi pertama menyebutkan, bahwa Kajao Lalliddong diakhir hidupnya ditandai dengan peristiwa “Mallajang” (menghilang) bersama anjing kesayangannya. Pada saat itu Kajao Lalliddong bersama anjingnya berjalan-jalan di Kampung Katumpi sebelah selatan kampung Lamellong, namun setelah dilakukan pencarian, ternyata Kajao Lalliddong bersama anjingnya tidak dapat ditemukan. Dengan demikian orang-orang di kampung Lalliddong menyatakan “Mallajang” (menghilang).

Versi kedua menyatakan di saat usia Kajao lalliddong bertambah uzur, pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tenang. Hanya tidak disebutkan bagaimana proses pemakamannya, apakah mengikuti prosesi animisme, atau agama Hindu, yakni dibakar atau dimakamkan sebagaimana kebiasaan orang Bugis saat itu.

Tentang makamnya yang terletak di Desa Lalliddong sekarang ini, menurut penduduk setempat pada mulanya hanyalah merupakan kuburan biasa yang ditandai sebuah batu sebagai nisan. Nanti pada suatu saat beberapa turunannya mengambil inisiatif dengan memugarnya, sehinnga sekaran nampak lebih unik dari kuburan lainnya.

Di sekitar makam Kajao Lalliddong terdapat beberapa kuburan tua. Menurut cerita penduduk di desa itu yang merasa turunannya, bahwa kuburan-kuburan itu adalah sanak keluarga Lamellong Kajao Lalliddong di masa hidupnya. Sedikitnya ada empat kuburan tua yang terdapat disekitar kuburan Kajao Lalliddong samapai sekarang tetap terjaga dan terpelihara.

Menurut sumber yang dapat dipercaya, bahwa saat-saat terakhir kehidupan Lamellong Kajao Lalliddong memperlihatkan hal-hal yang istimewa tentang ilmu kebatinan. Bahkan masyarakat banyak menganggap Kajao Lalliddong memilki berkah, sehinnga setiap saat dikunjungi oleh banyak orang.

Tongkat Lamellong

Di dusun Lamellong sekarang ini terdapat sebuah pohon besar yang berdiameter kira-kira 10 meter lebih hingga sekaran masih nampak berdiri dan tumbuh menjulang tinggi. Masyarakat meyakini pohon itu adalah tongkat Lamellong.

Konon pada suatu hari, Lamellong pernah mengambil pohon” Nyelle “ yang masih kecil untuk dijadikan tongkat. Namun karena tongkat itu tidak lagi digunakan maka dipancangkannya di atas tanah. Ternyata tongkat kayu itu kemudian tumbuh dengan suburnya, sampai sekarang pohon itu masih ada. Bahkan poho besar itu dijadikan penanda oleh penduduk setempat kapan mulainya musim tanam jagung. Menurut para petani di kampung Lalliddong apabila pohon nyelle itu sudah betul-betul rimbun maka tibalah saatnya menanam jagung. Selain itu pelaut-pelaut dari Sulawesi Selatan dan Tenggara yang akan berlabuh di Barebbo, maka pohon itulah dijadikan sebagai pedoman. Menurut mereka, selagi masih jauh dari daratan sudah kelihatan, puncak pohon ini sayup-sayup melambai.
Benar atau tidak, yang jelas bahwa pohon nyelle tersebut yang diyakini masyarakat setempat sebagai tongkat Lamellong, masih dapat disaksikan keberadaannya hinnga saat ini. Oleh sebagian masyarakat setempat menganggap pohon besar itu “angker”
(Teluk Bone)

Huruf Lontara

Suku Bangsa Bugis adalah suku bangsa yang tergolong ke dalam suku Deutro-Melayu atau Melayu Muda. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bugis yang tersebar di sebagian kabupaten Bone,Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, Pinrang, Enrekang, Majene, Luwu, Sidrap, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bulukumba dan Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki sendiri lambang penulisan yang memakai huruf / aksara lontara.

Jika ditelusuri, aksara-aksara di nusantara merupakan turunan dari aksara Pallawa yang berkembang di India bagian selatan, dan merupakan turunan dari aksara Brahmi yang merupakan cikal bakal semua aksara di daerah Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Aksara Brahmi adalah aksara yang digunakan di India pada masa pemerintahan Rasa Asoka (270 SM- 232 SM) yang ditulis dari kiri ke kanan meskipun berdasarkan huruf Aram atau huruf-hurus Fenisia di Timur Tengah yang ditulis dari kanan ke kiri. Aksara ini berkembang menjadi berbagai jenis aksara, yang biasanya dibagi menjadi aksara khas India Utara yang lebih bersudut dan aksara India Selatan yang lebih bulat. Setelah sekian lama, beberapa aksara dihubungkan dengan bahasa-bahasa tertentu.
Aksara lontara atau huruf lontara ada sebahagian kalangan menyebut Lontara' atau Lontarak. Lontara Bugis merupakan aksara asli masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar di Sulawesi Selatan. Bentuk aksara lontara itu sendiri terinspirasi dan tersusun dari empat unsur yakni, angin, tanah, air, dan api yaitu "Sulapa Eppa". Sehingga bentuk huruf nya mayoritas menyerupai segi empat.
Ada yang berpendapat bahwa lontara ini berbeda dengan aksara-aksara lain di Indonesia seperti aksara Bali, Jawa, Lampung, Sunda, yang oleh sebagian besar filolog dikaitkan dengan aksara Pallawa (atau kadangkala ditulis Pallava, sebuah aksara yang berasal dari India bagian selatan). Aksara lontara ini tidak dipengaruhi budaya lain, termasuk India, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa aksara ini merupakan turunan dari Pallawa.
Jujur sampai dengan sekarang masyarakat bugis – makassar sendiri banyak yang tidak memahami huruf lontara. Mungkin ini salah salah satu ciri bahwa kebudayaan Bugis sudah mulai di kikis oleh kebudayaan-kebudayaan barat yang bagaikan virus ganas menyebar di negara kita.
(Teluk Bone)

Jendela Bugis

Gitalara

Riwayat Bone

Bone dahulu disebut TANAH BONE. Berdasarkan LONTARA' bahwa nama asli Bone adalah PASIR, dalam bahasa bugis dinamakan Bone adalah KESSI (pasir). Dari sinilah asal usul sehingga dinamakan BONE. Adapun bukit pasir yang dimaksud kawasan Bone sebenarnya adalah lokasi Bangunan Mesjid Raya sekarang ini letaknya persis di Jantung Kota Watampone Ibu Kota Kabupaten Bone tepatnya di Kelurahan Bukaka. Kabupaten Bone adalah Suatu Kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu sejak adanya ManurungngE Ri Matajang pada awal abad XIV atau pada tahun 1330. ManurungngE Ri Matajang bergelar MATA SILOMPO’E sebagai Raja Bone Pertama memerintah pada Tahun 1330 – 1365. Selanjutnya digantikan Turunannya secara turun temurun hingga berakhir Kepada ANDI PABBENTENG sebagai Raja Bone ke– 33 Diantara ke – 33 Orang Raja yang telah memerintah sebagai Raja Bone dengan gelar MANGKAU, terdapat 7 (tujuh) orang Wanita.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Bone dahulu terdiri dari :

• ARUNG PONE (Raja Bone) bergelar MANGKAU
• MAKKEDANGNGE TANAH ( Bertugas dalam bidang hubungan/urusan dengan kerajaan lain (Menteri Luar Negeri)
• TOMARILALENG (Bertugas dalam Bidang urusan dalam daerah Kerajaan lain (Meteri dalam Negeri)
• ADE PITU (Hadat Tujuh)

Terdiri dari Tujuh orang, merupakan Pembantu Utama/Pemimpin Pemerintahan di Kerajaan Bone, masing-masing :

1. ARUNG UJUNG

Bertugas mengepalai Urusan Penerangan Kerajaan Bone.

2. ARUNG PONCENG

Bertugas mengepalai Urusan Kepolisian/Kejaksaan dan Pemerintaha.

3. ARUNG T A’

Bertugas mengepalai Urusan Pendidikan, dan mengetuai Urusan perkara Sipil.

4. ARUNG TIBOJONG

Bertugas mengepalai Urusan perkara/Pengadilan Landschap/ badat besar dan mengawasi urusan perkara Pengadilan Distrik/ badat kecil.

5. ARUNG TANETE RIATTANG

Bertugas mengepalai memegang Kas Kerajaan, mengatur Pajak dan Pengawasan Keuangan.

6. ARUNG TANETE RIAWANG

Bertugas mengepalai Pekerjaan Negeri (Landschap Werken-LW) Pajak Jalan dan Pengawas Opzichter.

7. ARUNG MACEGE

Bertugas mengepalai Urusan Pemerintahan Umum dan Perekonomian.

•PONGGAWA (Panglima Perang )Bertugas dibidang Pertahanan Kerajaan Bone dengan membawahi 3 (tiga) perangkat masing-masing :

1. ANREGURU ANAKARUNG

Bertugas mengkoordinir para anak Bangsawan berjumlah 40 (Empat puluh) orang bertugas sebagai pasukan elit Kerajaan.

2. PANGULU JOA

Bertugas mengkoordinir pasukan dari rakyat Tana Bone yang disebut Passiuno artinya : pasukan siap tempur dimedan perang setiap saat; rela mengorbankan jiwa raganya demi tegaknya Kerajaan Bone dari gangguan Kerajaan lain.

3. DULUNG (Panglima Daerah)

Bertugas mengkoordinir daerah Kerajaan bawahan, di Kerajaan Bone terdapat 2 (dua) Dulung (Panglima Daerah) yakni Dulungna Ajangale dari kawasan Bone Utara dan Dulungna Awang Tangka dari Bone Selatan.

•JENNANG (Pengawas)

Berfungi mengawasi para Petugas yang menangani bidang pengawasan baik dalam lingkungan istana, maupun dengan daerah/ kerajaan bawahan.

•KADHI (Ulama) Perangkatnya terdiri dari Imam, Khatib, Bilal, dan lain-lain, bertugas sebagai Penghulu Syara dalam Bidang Agama Islam, Keberadaan Kadhi (Ulama) di Kerajaan Bone ini senantiasa bekerja sama demi kemaslahatan rakyat, bahkan Raja Bone(Mangkau) meminta Fatwa kepada Kadhi khususnya menyangkut hukum islam.

•BISSU ( Waria) Bertugas merawat benda – benda Kerajaan. Disamping melaksanakan pengobatan tradisional, juga bertugas dalam kepercayaan kepada Dewata SeuuwaE. Setelah masuknya Agama Islam di Kerajaan Bone, kedudukan Bissu di non aktifkan. Waktu bergulir terus maka pada tahun 1905 Kerajaan Bone di kuasai oleh Penjajah Belanda. Kemudian atas persetujuan Dewan Ade PituE Ri Bone nama LALENG BATA sebagai Ibu Kota Kerajaan Bone diganti namanya menjadi WATAMPONE sampai sekarang. Pada tanggal 2 Desember 1905 oleh Pemerintah Belanda di Jakarta menetapkan bahwa adapun pengertian TELLUMPOCCOE ( Tri Aliansi) di Sulawesi Selatan ialah : Bone, Wajo dan Soppeng. Disatukan dalam satu sistem pemerintahan yang dinamakan AFDELING. Dimana Afdeling Bone dibagi menjadi 3 (tiga) bagian dengan nama Onder Afdeling masing-masing :

1. Onder Afdeling Bone Utara Ibu Kotanya Pompanua, Ibu kota Afdeling ini ditempati oleh Asisten Residen.

2. Onder Afdeling Bone Tengah Ibu Kotanya Watampone diperintah oleh Controler.

3. Onder Afdeling Bone Selatan Ibu kotanya Mare diperintah Oleh Aspiran Controler.

Pada tahun 1944 ketika tentara Jepang semakin terdesak oleh Sekutu,Jepang berusaha mengajak rakyat untuk membela Tanah Airnya. Jika di Pulau Jawa dan daerah lainnya terbentuk oleh suatu Wadah untuk menghimpun rakyat untuk mencapai Kemerdekaan, maka di Tana Bone dibentuk suatu Organisasi yang dikenal dengan nama SAUDARA kepanjangan dari SUMBER DARAH RAKYAT. SAUDARA ini dibentuk adalah merupakan persiapan Badan persetujuan yang sesungguhnya berjuang untuk mencegah kembali penjajahan Belanda di Indonesia. Kabupaten Bone setelah lepas dari Pemerintahan Kerajaan, sampai saat ini tercatat 13 (tiga belas) Kepala Daerah di beri kepercayaan untuk mengembang amanah pemerintahan di Kabupaten Bone masing-masing :

1. Andi Pangeran Petta Rani

Kepala Afdeling/ Kepala Daerah Tahun 1951 sampai dengan tanggal 19 Maret 1955.

2. Ma’Mun Daeng Mattiro

Kepala Daerah tanggal 19 Maret 1955 sampai dengan 21 Desember 1957.

3. H.Andi Mappanyukki

Kepala Daerah/ Raja Bone tanggal 21 Desember 1957 sampai dengan 21 1960.

4. Kol. H.Andi Suradi

Kepala Daerah tanggal 21 M e i l960 sampai dengan 01 Agustus 1966.

5. Andi Baso Amir

Kapala Daerah Tanggal 02 Maret 1967 sampai dengan 18 Agustus 1970.

6. Kol. H. Suaib

Bupati Kepala Daerah tanggal 18 – 08 – 1970 sampai dengan 13 Juli 1977.

7. Kol.H.P.B.Harahap

Bupati Kepala Daerah tanggal 13 Juli 1977 sampai dengan 22 Pebruari 1982.

8. Kol.H.A.Made Alie

PGS Bupati Kepala Daerah tanggal 22 Pebruari 1982 sampai dengan 6 April 1982 sampai dengan 28 Maret 1983.

9. Kol.H.Andi Syamsul Alam

Bupati Kepala Daerah tanggal 28 Maret 1983 sampai dengan 06 April 1988.

10. Kol.H.Andi Sjamsul Alam

Bupati Kepala Daerah tanggal 06 April 1988 sampai dengan 17 April l993.

11. Kol. H.Andi Amir

Bupati Kepala Daerah tanggal 17 April 1993 Sampai 2003

12. H. A. Muh. Idris Galigo,SH

Bupati Kepala Daerah tahun 2003 Sampai Sekarang (sebagai catatan bahwa pemilihan calon Bupati dan wakil Bupati untuk periode 2008 samapi sekarang

GAMBARAN UMUM KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BONE

A. Sejarah Berdirinya Kabupaten Bone

Kerajaan Tana Bone dahulu terbentuk pada awal abad ke- IV atau pada tahun 1330, namun sebelum Kerajaan Bone terbentuk sudah ada kelompok-kelompok dan pimpinannya digelar KALULA Dengan datangnya TO MANURUNG ( Manurungge Ri Matajang ) diberi gelar MATA SILOMPO-E. maka terjadilah penggabungan kelompok-kelompok tersebut termasuk Cina, Barebbo, Awangpone dan Palakka. Pada saat pengangkatan TO MANURUNG MATA SILOMPO- E menjadi Raja Bone, terjadilah kontrak pemerintahan berupa sumpah setia antara rakyat Bone dalam hal ini diwakili oleh penguasa Cina dengan 10 MANURUNG , sebagai tanda serta lambang kesetiaan kepada Rajanya sekaligus merupakan pencerminan corak pemerintahan Kerajaan Bone diawal berdirinya. Disamping penyerahan diri kepada Sang Raja juga terpatri pengharapan rakyat agar supaya menjadi kewajiban Raja untuk menciptakan keamanan, kemakmuran, serta terjaminnya penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat. Adapun teks Sumpah yang diucapkan oleh penguasa Cina mewakili rakyat Bone berbunyi sebagai berikut ;

ANGIKKO KURAUKKAJU RIYAAOMI’RI RIYAKKENG KUTAPPALIRENG ELOMU ELO RIKKENG ADAMMUKKUWA MATTAMPAKO KILAO.. MALIKO KISAWE. MILLAUKO KI ABBERE. MUDONGIRIKENG TEMMATIPPANG. MUAMPPIRIKKENG TEMMAKARE. MUSALIMURIKENG TEMMADINGING “ Terjemahan bebas ; “ ENGKAU ANGIN DAN KAMI DAUN KAYU, KEMANA BERHEMBUS KESITU KAMI MENURUT KEMAUAN DAN KATA-KATAMU YANG JADI DAN BERLAKU ATAS KAMI, APABILA ENGKAU MENGUNDANG KAMI MENYAMBUT DAN APABILA ENGKAU MEMINTA KAMI MEMBERI, WALAUPUN ANAK ISTRI KAMI JIKA TUANKU TIDAK SENANGI KAMIPUN TIDAK MENYENANGINYA, TETAPI ENGKAU MENJAGA KAMI AGAR TENTRAM, ENGKAU BERLAKU ADIL MELINDUNGI AGAR KAMI MAKMUR DAN SEJAHTERA ENGKAU SELIMUTI KAMI AGAR TIDAK KEDINGINAN

Budaya masyarakat Bone demikian Tinggi mengenai sistem norma atau adat berdasarkan Lima unsur pokok masing-masing : Ade, Bicara, Rapang, Wari dan Sara yang terjalin satu sama lain, sebagai satu kesatuan organis dalam pikiran masyarakat yang memberi rasa harga diri serta martabat dari pribadi masing-masing. Kesemuanya itu terkandung dalam satu konsep yang disebut “ SIRI “merupakan integral dari ke Lima unsur pokok tersebut diatas yakni pangadereng ( Norma adat), untuk mewujudkan nilai pangadereng maka rakyat Bone memiliki sekaligus mengamalkan semangat/budaya ;

SIPAKATAU artinya : Saling memanusiakan , menghormati / menghargai harkat dan martabat kemanusiaan seseorang sebagai mahluk ciptaan ALLAH tanpa membeda – bedakan, siapa saja orangnya harus patuh dan taat terhadap norma adat/hukum yang berlaku.

SIPAKALEBBI artinya : Saling memuliakan posisi dan fungsi masing-masing dalam struktur kemasyarakatan dan pemerintahan, senantiasa berprilaku yang baik sesuai dengan adat dan budaya yang berlaku dalam masyarakat.

SIPAKAINGE artinya: Saling mengingatkan satu sama lain, menghargai nasehat, pendapat orang lain, manerima saran dan kritikan positif dan siapapun atas dasar kesadaran bahwa sebagai manusia biasa tidak luput dari kekhilafan.
Dengan berpegang dan berpijak pada nilai budaya tersebut diatas, maka system pemerintahan Kerajaan Bone adalah berdasarkan musyawarah mufakat. Hal ini dibuktikan dimana waktu itu kedudukan ketujuh Ketua Kaum ( Matoa Anang ) dalam satu majelis dimana MenurungE sebagai Ketuanya Ketujuh Kaum itu diikat dalam satu ikatan persekutuan yang disebut KAWERANG, artinya Ikatan Persekutuan Tana Bone. Sistem Kawerang ini berlangsung sejak ManurungE sebagai Raja Bone pertama hingga Raja Bone ke IX yaitu LAPPATAWE MATINROE RI BETTUNG pada akhir abad ke XVI.
Pada tahun 1605 Agama Islam masuk di Kerajaan Bone dimasa pemerintahan Raja Bone ke X LATENRI TUPPU MATINROE RI SIDENRENG. Pada masa itu pula sebuatan Matoa Pitu diubah menjadi Ade Pitu ( Adat Tujuh ), sekaligus sebutan MATOA mengalami pula perubahan menjadi ARUNG misalnya, Matua Ujung disebut Arung Ujung dan seterusnya. Demikian perjalanan panjang Kerajaan Bone, maka pada bulan Mei 1950 untuk pertama kalinya selama Kerajaan Bone terbentuk dan berdiri diawal abad ke XIV atau tahun 1330 hingga memasuki masa kemerdekaan terjadi suatu demonstrasi rakyat dikota Watampone yaitu menuntut dibubarkannya Negara Indonesia Timur, serta dihapuskannya pemerintahan Kerajaan dan menyatakan berdiri dibelakang Pemerintah Republik Indonesia (NKRI). Beberapa hari kemudian para anggota Adat Tujuh mengajukan permohonan berhenti.
Bone kemudian berkembang terus dan pada akhirnya menjadi suatu daerah yang memiliki wilayah yang luas, dan dengan undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II Bone yang merupakan bagian integral dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Atas dasar tersebut, untuk lebih memberi arti keberadaan Bone sebagai suatu persekutuan hidup masyarakat yang telah memiliki wilayah, rakyat, dan pemerintahan.

B. Letak Geografi dan Potensi Wilayah

Daerah Kabupaten Bone merupakan salah satu Kabupaten yang terdapat di Propinsi Sulawesi Selatan, secara Geografis letaknya sangat strategis karena adalah pintu gerbang pantai timur Sulawesi Selatan yang merupakan pantai Barat Teluk Bone memiliki garis pantai yang cukup panjang membujur dari Utara ke Selatan menelusuri Teluk Bone tepatnya 174 Kilometer sebelah Timur Kota Makassar, luas wilayah Kabupaten Bone 4,556 KM Bujur Sangkar atau sekitar 7,3 persen dari luas Propinsi Sulawesi Selatan, didukung 27 Kecamatan, 335 Desa dan 39 Kelurahan, dengan jumlah penduduk 648,361 Jiwa.
Kabupaten Bone berbatasan dengan daerah-daerah sebagai berikut ;

- Sebelah Utara Kabupaten Wajo

- Sebelah Selatan Kabupaten Sinjai

- Sebelah Barat Kabupaten Soppeng, Maros, Pangkep dan Barru

- Sebelah Timur adalah Teluk Bone yg menghubungkan Propinsi SulawesiTenggara

Untuk jelasnya 27 Kecamatan di Kabupaten Bone dicantumkan sebagai berikut ;

1. Kecamatan Tanete Riattang

2. Kecamatan Tanete Riattang Barat

3. Kecamatan Tanete Riattang Timur

4. Kecamatan Palakka

5. Kecamatan Awangpone

6. Kecamatan SibuluE

7. Kecamatan Barebbo

8. Kecamatan Ponre

9. Kecamatan Cina

10. Kecamatan Mare

11. Kecamatan Tonra

12. Kecamatan Salomekko

13. Kecamatan Patimpeng

14. Kecamatan Kajuara

15. Kecamatan Kahu

16. Kecamatan Bontocani

17. Kecamatan Libureng

18. Kecamatan Lappariaja

19. Kecamatan Bengo

20. Kecamatan Lamuru

21. Kecamatan Tellu LimpoE

22. Kecamatan Ulaweng

23. Kecamatan Amali

24. Kecamatan Ajangale

25. Kecamatan Dua BoccoE

26. Kecamatan Tellu SiattingE

27. Kecamatan Cenrana


C. Administrasi Pemerintahan Bone di era Otoda

Otonomi daerah yang sebagaimana digariskan oleh Undang – Undang No. 22 Tahun 1999 yang secara efektif diberlakukan pada 1 Januari 2001, memang akan menyita berbagai pemikiran bagi pemerintah ditingkat Kabupaten Karena dalam pelaksanaannya memerlukan transportasi para digmatik terutama dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah, dari pemikiran ini pemerintah Kabupaten Bone berupaya merumuskan langkah-langkah yang strategis serta berbagai kebijakan untuk menjawab tuntutan yang sifatnya mendesak seperti peningkatan Sumber Daya Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Potensi Bone merupakan salah satu daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan memiliki peranan yang penting dalam perdagangan Barang dan jasa dikawasan Timur Indonesia, apalagi Kabupaten yang berpenduduk 648.361 Jiwa memiliki Sumber Daya Alam disektor pertambangan misalnya bahan industry atau bangunan, emas, tembaga, perak, batubara dan pasir kuarsa. Seluruhnya dapat dieksplorasi dan eksploitasi, namun hal ini akan menjadi peluang emas bagi masyarakat Bone dalam peningkatan Kesejahteraan dimasa yang akan datang dalam pelaksanaan Otonomi Daerah sedikitnya hal ini akan menjadi penunjang utama peningkatan pembangunan.
(Sumber : www.telukbone.org)
Teluk Bone

Info Terpopuler